Selasa, 23 November 2010

PERKEMBANGAN IKLAN CETAK DAN MAJALAH

Teknologi percetakan, di paruh pertama abad ke-19 meskipun telah ada mesin cetak berkapasitas besar, secara umum masih menggunakan alat cetak ‘hand press’. Hal itu terlihat dari pelbagai kulit buku, poster dan surat kabar, masih terlihat dominan menggunakan ‘huruf deret’ . Dalam periklanan penggunaan huruf semacam itu dikenal sebagai iklan baris yang mengkomposisikan pelbagai jenis huruf. Baru pada tahun 1870 gambar atau ilustrasi mulai diterakan dalam media cetak, meskipun dalam bentuk piktograf atau simbol. Gambar-gambar atau piktograf tersebut disertakan sesuai dengan tema iklan ataupun informasi yang ingin disampaikan. Sedang ilustrasi atau kulit muka buku, telah berkembang dalam bentuk tata muka yang lebih lengkap, seperti penggunaan huruf, gambar dan warna. Bentuk iklan surat kabar ataupun majalah yang mengandung unsur grafis seperti teks, ilustrasi, identitas usaha dan tata letak yang lebih modern, baru terlihat sekitar tahun 1880, antara lain iklan produk parfum dan perlengkapan rias merk ‘Ed Pinaud’ buatan Perancis yang dimuat pada surat kabar Pemberita Betawi tanggal 9 Januari 1886, tanggal 5 November 1907 dan tanggal 5 Maret 1908.(Riyanto, 2000:132)
..
Gambar 1. (a) Mesin cetak merk ‘Faber & Schleider’ yang diduga diimpor pertama kali di wilayah Hindia Belanda di abad ke-19; (b) Beberapa media cetak yang terbit di paruh kedua abad ke-19 hingga tahun 1920-an.

Sejalan dengan hal di atas, teknologi percetakan juga mengalami perkembangan. Hal tersebut ditandai oleh penggunaan klise dari bahan logam, seperti timah, kuningan, tembaga, karet, serta bahan ‘nylon print’ kemudian banyak dipergunakan oleh percetakan besar, di antaranya percetakan Albrecht & Co di Batavia. Kemajuan teknologi percetakan dan usaha penerbitan, meningkatkan pula kreativitas para perancang grafis iklan surat kabar, majalah dan ilustrasi perbukuan. Secara khusus perusahaan periklanan besar ‘Aneta’ dan ‘Excelsior’ mendatangkan perancang grafis dari negeri Belanda, yaitu Frist Adolph Oscar van Bemmel. Ia dikenal sebagai seorang juru gambar, desainer poster, desainer produk, ilustrator dan kartunis, selama di Indonesia yang berdomisili di Bogor dan Jakarta. Bemmel bekerja di biro iklan ‘Aneta’. Beberapa karyanya dimuat di majalah ‘De Reflector’ (1918), ‘De Zweep’ (1922,1923) dan ‘De Java Bode (1926), dan Cornelis Van Deutekom. Ia dikenal sebagai seorang pelukis, juru gambar, desainer poster, dan seniman iklan. Ia datang ke Indonesia pada tahun 1920-an dan bekerja di beberapa surat kabar Jakarta, Surabaya dan Malang. Karya-karyanya dapat dijumpai pula di majalah ‘De Zweep’, ‘D’Orient’ (1922 dan 1923), serta karya kartunnya dimuat majalah ‘De Java-Bode’ dan mingguan ‘De Nar’ (1929,1931,1932).

Perkembangan desain grafis memperlihatkan kemajuan teknik maupun gaya visual yang lebih modern pada awal abad ke-20. Hal tersebut dapat dicermati pada pelbagai perkembangan poster film, pengumuman, iklan, kemasan maupun karya cetak lainnya,

Kurang lebih dua dekade setelah kemerdekaan, teknologi percetakan di Indonesia baru meningkat dengan hadirnya mesin cetak web offset, yang dipergunakan untuk pertama kalinya pada tahun 1969 untuk mencetak koran Harian Merdeka. Tetapi rintisan sebelumnya dengan menggunakan teknologi cetak tinggi (Rotasi Duplex) sejak tahun 1950-an dan merupakan bukti bahwa terapan proses produksi grafis modern telah dimulai. Beberapa karya cetak perangko, uang, poster, majalah bahkan buku, merupakan bukti-bukti nyata bahwa teknologi modern telah dicoba, baik karya grafis yang dikerjakan di dalam negeri maupun karya grafis yang dikembangkan dengan berkerja sama dengan pihak lain di luar negeri. Pada awal tahun 1970-an sejalan dengan pertumbuhan kebudayaan ‘Pop’, berkembang pula majalah bagi kaum muda, seperti ‘Aktuil’, ‘Ditektif Romantika’, ‘Stop’, ‘Zaman’, ‘Gadis’, dan sebagainya yang memiliki pangsa pasar luas di kalangan remaja. Majalah musik ‘Aktuil’ di samping menyajikan perkembangan musik pop, juga menyajikan ilustrasi-ilustrasi alternatif yang diadopsi dari gaya ‘Pop Art’ dan ‘Pschydelic Art’. Majalah ‘Aktuil’ merupakan perintis permainan ungkapan rupa melalui teknik susun tipografi, dan juga perintis poster cetak berwarna dalam ukuran besar.


.. ..
Gambar 4. (a) Kulit muka buku ‘Pahlawan Kemerdekaan’ (1953); (b) Kulit muka buku pelajaran sekolah; (c) Kulit muka majalah ‘Ragi Buana’ tahun 1960-an.
Pada tahun 1980-an, sejalan dengan pertumbuhan profesi desain grafis, dibentuk IPGI (Ikatan Perancang Grafis Indonesia) adalah satu wadah profesional beranggotakan para pendidik desain maupun profesional. Dalam dekade tersebut tumbuh biro pengiklan (advertising) besar seperti ‘Matari’, ‘Fortune’, ‘Pro-Ad’, ‘Cabe Rawit’, ‘Artek’, ‘Indo-Ad’, ‘Citra Lintas’, ‘Cipta Citra’, ‘Pelita Alembana’, ‘B &B’, ‘Ad-Force’, ‘Citra Link’, ‘Adwork’, dan sejumlah biro iklan besar lainnya.

Dunia periklanan sebagai bagian dari ajang bisnis besar, merupakan wilayah yang paling subur dan potensial bagi pengembangan profesi desain grafis. Mengingat kebutuhan yang tinggi di masyarakat akan profesi ini, maka profesi desain grafis mengalami pelbagai percepatan kemajuan dan perluasan usaha. Terutama ketika penggunaan komputer grafis semakin populer di masyarakat pada awal tahun 1990-an. Alternatif pembuatan desain iklan maupun karya grafis semakin menunjukkan kualitas cetak yang meningkat. Gaya visual yang diadopsi oleh iklan dan karya grafispun semakin beragam dan lebih bersifat multi-kultural dan lintas gaya yang berkembang di pelbagai belahan dunia.

Hingga awal tahun 1990-an, ketika siaran televisi swasta belum hadir, iklan cetak masih merupakan usaha besar dunia biro iklan. Demikian pula desain iklan cetak cenderung untuk menginformasikan pelbagai produk, pesan persuasi maupun tampilan yang mudah diingat. Fenomena tersebut dapat diamati pada pelbagai jenis iklan cetak yang memenangkan Citra Pariwara sejak tahun 1988 hingga tahun 1996. (Cakram,1997 :29-37)
Kemudian ketika siaran televisi swasta mulai memantapkan diri sebagai siaran alternatif setelah radio dan TVRI, dunia iklan Indonesia mulai bergeser ke arah iklan media elektronik, disusul oleh tumbuhnya rumah-rumah produksi (produsen iklan multimedia). Pada tahun 1998, ketika Indonesia berhadapan dengan krisis ekonomi, dunia iklan mengalami penurunan mendekati 60 persen dari tahun sebelumnya. Jika pada tahun 1997, belanja iklan nasional telah mendekati Rp.2,1 triliun maka pada tahun 1998 belanja iklan nasional hanya berkisar Rp 860 milyar. Namun demikian jumlah media cetak justru menunjukkan kenaikan yang besar dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Keterlibatan perusahaan iklan multi nasional dengan modal asing yang kuat, memicu pertumbuhan gaya visual dalam iklan cetak semakin beragam, beberapa di antaranya mengadopsi gaya Pop-Modern dan ‘Posmodern’ yang sedang populer di pelbagai media cetak dunia.
..
Gambar 5. (a) Sejumlah karya iklan di tahun 1980-an sebagai nominator pemenang penghargaan iklan terbaik ‘Citra Pariwara’ dengan sejumlah gaya visual Pop-Modern; (b & c) dua buah iklan dalam majalah Trolley yang terbit akhir dekade 1990-an dengan gaya visual Posmodern.

Sumber :  http://dgi-indonesia.com/pergeseran-nilai-estetis-pada-desain-karya-cetak-indonesia-di-abad-ke20-studi-historiografi-pada-iklan-cetak-dan-kulit-muka-buku/

posted by : Windy

Perkembangan Tipografi

Perkembangan Tipografi
Apa itu tipografi? Bagi sebagian orang kata-kata tipografi terasa masih asing banget buat di dengar sehari-hari. Padahal tiap hari, tiap menit kita pasti menemukan tipografi di setiap sudut kehidupan. Di jalan saat membaca reklame, saat membaca poster di papan madink, membaca novel kesukaan, graffiti-gfraffiti  jalanan, dan sebagainya. Yup bener banget. Tipografi adalah ilmu yang mempelajari tentang huruf. Dalam dunia design bisa di artikan lebih luas lagi yaitu ilmu tentang bagaimana kita memilih,dan  menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin.
Tipografi  sendiri sebenarnya sudah ada dari sejak bangsa-bangsa Mesir, Viking, Indian, dan Norwegia dalam bentuk pictogram. Apa lagi tuh pictogram? Pictogram itu adalah gambar-gambar yang di ukir di dalam Goa atau batu yang merupakan symbol-simbol yang masing-masing memiliki arti.  Semenjak itu seiring perkembangan zaman yang semakin modern, pictogram-pictogram tersebut juga berevolusi menjadi huruf-huruf yang sekarang kita pakai untuk menulis.
Indonesia sendiri sangat kaya dengan beragam keunikan aksara-aksara yang berasal dari berbagai daerah Jawa, , Bugis, dan batak, dll. Hal ini di manfaatkan dengan baik oleh para desainer untuk mengembangkan unsur etnik tradisional ke tipografi modern. Meski  Indonesia sendiri sebenarnya belum terdengar nama-nama tokoh berpengaruhnya dalam bidang Tipografinya, tapi tidak terbatas hanya di situ saja. Meski tokoh-tokoh berpengaruh nya belum ada, Font-font unik karya Desainer Indonesia telah bertebaran dimana-mana. . Tipografi pun tetap menjadi unsur penting dalam membuat suatu desain.
Font yang terinspirasi dari logo Visit Indonesia 2009 ini didesain oleh Fizz-Labz.
Font aksara jawa yang ini sudah dimodifikasi agar lebih readable. Sayangnya lagi, jenis font ini tidak memiliki desain angka. Tetapi terlepas dari kekurangannya, desain font ini memang Indonesia banget.
Diuat oleh  Suryo Wahono. Desain font yang biasanya dipakai di rumah makan minang ini rapi dan lumayan lengkap (huruf besar dan kecil, angka, serta beberapa tanda baca). Sangat mencirikan rumah adat Sumatera Barat.

Boleh dibilang desain font ini memiliki unsur modern-tradisional. Bentuk hurufnya modern dan diperkaya dengan pola batik. Meskipun kurang read-able, desain font ini cukup unik.
Dibuat oleh Gregorius Wisnu.Kalau dilihat sekilas, desain font ini sedikit mirip dengan huruf Hanacaraka. Karakter pada font ini juga sudah lumayan lengkap.

selain desain-desain Font yang keren seperti di atas, terdapat  tokoh design yang  telah tergugah hatinya untuk membuat buku yang berjudul “tipografi dalam Desain Grafis” asli karangan desainer Indonesia dan merupakan buku tipografi dari segelintir buku Tipografi  di Indonesia selain buku-buku tipografi import. Pengarang buku tersebuta adalah Danton Sihombing. Berikut saya sertakan juga resensi bukunya agar pembaca gak perlu repot-repot searching lagi.
Penulis: Danton Sihombing
Ukuran: 16,5 x 24 cm
Tebal: 190 halaman
Terbit: Januari 2001
ISBN: 979-655-956-0; 21101956
Soft Cover
Pembahasan komunikasi visual lewat huruf dan aspek-aspek tipografi yang mendasar disajikan lewat sejarah perkembangan desain dan gaya huruf, teknik dan terminologi dalam tipografi hingga pedoman dasar penerapan tipografi dalam rancangan grafis. Di tengah langkanya penerbitan buku desain grafis di Indonesia, buku ini merupakan referensi yang baik bagi para peminat, siswa ataupun praktisi desain grafis di Indonesia.
…Buku pertama tentang tipografi yang diterbitkan di Indonesia ini akan memberikan pemahaman dasar terhadap masalah desain grafis dan tipografi.
– Irvan A. Noe’man, President Director BD+A Design


Posted By: Natasia

Sejarah perkembangan desain grafis

Sejarah perkembangan desain grafis



Perjalanan desain dan gaya huruf latin mulai diterapkan pada awal masa kejayaan kerajaan ROMAWI.
Kejayaan kerajaan Romawi di abad pertama yang berhasil menaklukkan Yunani, membawa peradaban baru dalam sejarah Barat dengan diadaptasikannya kesusasteraan, kesenian, agama, serta alfabet Latin yang dibawa dari Yunani. Pada awalnya alfabet Latin hanya terdiri dari 21 huruf : A, B, C, D, E, F, G, H, I, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, V, dan X, kemudian huruf Y dan Z ditambahkan dalam alfabet Latin untuk mengakomodasi kata yang berasal dari bahasa Yunani. Tiga huruf tambahan J, U dan W dimasukkan pada abad pertengahan sehingga jumlah keseluruhan alfabet Latin menjadi 26.

Ketika perguruan tinggi pertama kali berdiri di Eropa pada awal milenium kedua, buku menjadi sebuah tuntutan kebutuhan yang sangat tinggi. Teknologi cetak belum ditemukan pada masa itu, sehingga sebuah buku harus disalin dengan tangan. Konon untuk penyalinan sebuah buku dapat memakan waktu berbulan-bulan. Guna memenuhi tuntutan kebutuhan penyalinan berbagai buku yang semakin meningkat serta untuk mempercepat kerja para penyalin (scribes), maka lahirlah huruf Blackletter Script, berupa huruf kecil yang dibuat dengan bentuk tipis-tebal dan ramping. Efisiensi dapat terpenuhi lewat bentuk huruf ini karena ketipis tebalannya dapat mempercepat kerja penulisan. Disamping itu, dengan keuntungan bentuk yang indah dan ramping, huruf-huruf tersebut dapat ditulisakan dalam jumlah yang lebih banyak diatas satu halaman buku.

Berikut ini adalah peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah perkembangan desain grafis. Johannes Gutenberg (1398-1468) menemukan teknologi mesin cetak yang bisa digerakkan pada tahun 1447 dengan model tekanan menyerupai disain yang digunakan di Rhineland, Jerman untuk menghasilkan anggur. Ini adalah suatu pengembangan revolusioner yang memungkinkan produksi buku secara massal dengan biaya rendah, yang menjadi bagian dari ledakan informasi pada masa kebangkitan kembali Eropa.

1851, The Great Exhibition

Diselenggarakan di taman Hyde London antara bulan Mei hingga Oktober 1851,pada saat Revolusi industri. Pameran besar ini menonjolkan budaya dan industri serta merayakan teknologi industri dan disain. Pameran digelar dalam bangunan berupa struktur besi-tuang dan kaca, sering disebut juga dengan Istana Kristal yang dirancang oleh Joseph Paxton.

1892, Aristide Bruant, Toulouse-Lautrec

Pelukis post-Impressionist dan ilustrator art nouveau Prancis, Henri Toulouse-Lautrec melukiskan banyak sisi Paris pada abad ke sembilan belas dalam poster dan lukisan yang menyatakan sebuah simpati terhadap ras manusia. Walaupun lithography ditemukan di Austria oleh Alois Senefelder pada tahun 1796, Toulouse-Lautrec membantu tercapainya peleburan industri dan seni.

1910, Modernisme

Modernisme terbentuk oleh urbanisasi dan industrialisasi dari masyarakat Barat. Sebuah dogma yang menjadi nafas desain modern adalah “Form follow Function” yang di lontarkan oleh Louis Sullivan.Symbol terkuat dari kejayan modernisme adalah mesin yang juga diartikan sebagai masa depan bagi para pengikutnya. Desain tanpa dekorasi lebih cocok dengan ´bahasa mesin´, sehingga karya-karya tradisi yang bersifat ornamental dan dekoratif dianggap tidak sesuai dengan ´estetika mesin´

1916, Dadaisme

Suatu pergerakan seni dan kesusasteraan (1916-23) yang dikembangkan mengikuti masa Perang Dunia Pertama dan mencari untuk menemukan suatu kenyataan asli hingga penghapusan kultur tradisional dan bentuk estetik. Dadaism membawa gagasan baru, arah dan bahan, tetapi dengan sedikit keseragaman. Prinsipnya adalah ketidakrasionalan yang disengaja, sifat yang sinis dan anarki, dan penolakan terhadap hukum keindahan.

1916, De Stijl

Gaya yang berasal dari Belanda, De Stijl adalah suatu seni dan pergerakan disain yang dikembangkan sebuah majalah dari nama yang sama ditemukan oleh Theo Van Doesburg. De Stijl menggunakan bentuk segi-empat kuat, menggunakan warna-warna dasar dan menggunakan komposisi asimetris. Gambar dibawah adalah Red and Blue Chair yang dirancang oleh Gerrit Rietveld.


1918, Constructivism

Suatu pergerakan seni modern yang dimulai di Moscow pada tahun 1920, yang ditandai oleh penggunaan metoda industri untuk menciptakan object geometris. Constructivism Rusia berpengaruh pada pandangan moderen melalui penggunaan huruf sans-serif berwarna merah dan hitam diatur dalam blok asimetris. Gamabr dibawah adalah model dari Menara Tatlin, suatu monumen untuk Komunis Internasional.

1919, Bauhaus

Bauhaus dibuka pada tahun 1919 di bawah arahan arsitek terkenal Walter Gropius. Sampai akhirnya harus ditutup pada tahun 1933, Bauhaus memulai suatu pendekatan segar untuk mendisain mengikuti Perang Duni Pertama, dengan suatu gaya yang dipusatkan pada fungsi bukannya hiasan.

1928-1930, Gill Sans

Tipograper Eric Gill belajar pada Edward Johnston dan memperhalus tipe huruf Underground ke dalam Gill Sans. Gill Sans adalah sebuah jenis huruf sans serif dengan proporsi klasik dan karakteristik geometris lemah gemulai yang memberinya suatu kemampuan beraneka ragam (great versatility).

1931, Harry Beck

Perancang grafis Harry Back ( 1903-1974) menciptakan peta bawah tanah London (London Underground Map) pada tahun 1931. Sebuah pekerjaan abstrak yang mengandung sedikit hubungan ke skala fisik. Beck memusatkan pada kebutuhan pengguna dari bagaimana cara sampai dari satu stasiun ke stasiun yang lain dan di mana harus berganti kereta.

1950s, International Style

International atau Swiss style didasarkan pada prinsip revolusioner tahun 1920an seperti De Stijl, Bauhaus dan Neue Typography, dan itu menjadi resmi pada tahun 1950an. Grid, prinsip matematika, sedikit dekorasi dan jenis huruf sans serif menjadi aturan sebagaimana tipografi ditingkatkan untuk lebih menunjukkan fungsi universal daripada ungkapan pribadi.



1951, Helvetica

Diciptakan oleh Max Miedinger seorang perancang dari Swiss, Helvetica adalah salah satu tipe huruf yang paling populer dan terkenal di dunia. Berpenampilan bersih, tanpa garis-garis tak masuk akal berdasarkan pada huruf Akzidenz-Grotesk. Pada awalnya disebut Hass Grostesk, nama tersebut diubah menjadi Helvetica pada tahun 1960. Helvetica keluarga mempunyai 34 model ketebalan dan Neue Helvetica mempunyai 51 model.

1960s, Psychedelia and Pop Art

Kultur yang populer pada tahun 1960an seperti musik, seni, disain dan literatur menjadi lebih mudah diakses dan merefleksikan kehidupan sehari-hari. Dengan sengaja dan jelas, Pop Art berkembang sebagai sebuah reaksi perlawanan terhadap seni abstrak. Gambar dibawah adalah sebuah poster karya Milton Glaser yang menonjolkan gaya siluet Marcel Duchamp dikombinasikan dengan kaligrafi melingkar. Di cetak lebih dari 6 juta eksemplar.

1984, Émigré

Majalah disain grafis Amerika, Émigré adalah publikasi pertama untuk menggunakan komputer Macintosh, dan mempengaruhi perancang grafis untuk beralih ke desktop publishing ( DTP). Majalah ini juga bertindak sebagai suatu forum untuk eksperimen tipografi.


Sumber : http://www.ngobrolaja.com/showthread.php?t=66813
Posted By: Fony Indriany

Senin, 22 November 2010

Perkembangan Dunia Desain Komunikasi Visual di Indonesia serta Tantangan yang akan dihadapi di masa depan

Perkembangan desain saat ini cukup berkembang pesat di Indonesia karena seiring dengan berkembangnya teknologi di Indonesia yang semakin canggih pula, misalnya saja jika ditinjau dari segi desain - desain yang sudah ada terutama desain multimedia dan banyaknya software - software yang sangat mendukung dalam pembuatan desain pada saat ini. Dari perkembangan desain yang semakin pesat di indonesia terutama perkembangan multimedia,  didapatkan informasi ternyata ada sebuah software yang bisa menjawab semua itu dalam pembuatan desain terutama dalam melayout, yaitu dengan Adobe InDesign. kami menyadari bahwa ternyata kehadiran Adobe InDesign memang belum terlalu banyak disambut banyak orang terbukti dengan dominasi Adobe Page Maker yang semakin kuat tetapi Adobe Crop sudah mengambil sebuah keputusan tidak lagi mengembangkan PageMaker, dan InDesign hadir untuk menggantikan Page Maker.
 Adobe InDesign adalah sebuah inofasi yang sangat berguna bagi seorang Designer grafis dalam melayout atau untuk membuat publikasi. InDesign menyediakan beragam tool canggih serta fasilitas-fasilitas menarik yang akan membantu anda membuat publikasi menawan. untuk sekedar informasi saja program ini cukup mudah untuk dipelajari karena merupakan pengembangan dari software - software yang sudah ada di dalam mendesign. Oleh sebab itu dengan adanya InDesign dapat memformat karakter dan paragraf, memanipulasi gambar, membuat berbagai macam efek, menggunakan beberapa halaman master pada sebuah dokumen, membuat transparasi, mencetak halaman siap, melakukan proses separasi, dan lain-lain.
Program Adobe InDesign memang sangat membantu untuk membuat design halaman publikasi tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kami terhadap program ini, memang masih saja ada kekurangan dalam program ini oleh karena itu kami masih menanti perkembangan design khususnya dalam software InDesign yang akan datang sehingga kami mampu menggunakan dan mengeksplorasi fasilitas-fasilitas yang disediakan dan berusaha mampu memahami materi secara terstruktur terhadap aplikasi baru yang akan disajikan terhadap Adobe InDesign.
          Selain software- software canggih yang belakangan ini sudah mulai bermunculan, ada satu hal lagi yang mengalami perkembangan yaitu faktor sumber daya manusia.Sumber daya manusia yang dimaksud disini adalah seseorang yang terjun dan berkecimpung di dalam dunia design, baik secara otodidak ataupun secara pendidikan formal yang ditekuni.Terbukti dengan makin maraknya ajang perlombaan design dan event- event pameran dengan tujuan memperkenalkan dunia desain kepada khalayak.
Setiap ada perkembangan dan kemajuan, disitulah ada tantangan yang akan dihadapi. Tidak selalu suatu hal akan terus maju dan berkembang tanpa adanya suatu tantangan.Dari tantangan itulah kita belajar dan maju untuk memperoleh hasil yang maksimal.Isu yang belakangan ini sedang hangat diperbincangkan oleh sebagian orang yang mendalami dunia design komunikasi visual adalah Advertising Down dan dikuasai oleh Advertising asing.Memang pelik dan menggemaskan jika hal ini sampai terjadi. Coba kita tengok sekilas dunia design yang notabene merupakan sahabat dari ilmu advertising yang dahulu sempat ” tercekik ” karena adanya keterbatasan alat penunjang dan keterbatasan sumber daya manusia,dan sekarang sudah berangsur- angsur pulih dan mengalami perke mbangan. apakah kita akan diam saja melihat itu semua di rampas, ketika dunia ini sedang maju? dengan lantang kami katakan TIDAK RELA!!!!!. Advertising down dan Dikuasai oleh advertising Asing adalah sebuah fenomena yang dapat terjadi karna adanya penurunan kualitas dari dunia advertising dibandingkan dengan advertising asing, yang imbasnya akan mengakibatkan majunya advertising asing dan dikuasai oleh mereka. Fenomena ini dapat terjadi jika kualitas tenaga kreatif dalam biro iklan di Indonesia dewasa ini baerkesan rendah yang nantinya akan membawa pada praktek pembuatan iklan yang melanggar kode etik maupun standar nilai yang dihormati dan munculnya suatu persepsi bahwa Indonesia belum becus untuk menangani dan membuat iklan yang bermutu. Ada penyakit pasti ada obatnya, advertising kita dikuasai?
Masih ada penanggulannya!.itu semua dapat kita cegah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya yaitu dangan cara meningkatkan porsi pengetahuan tentang design dan cabang- cabang ilmunya, serta peningkatan media beserta alat- alat penunjangnya dan satu lagi adalah tidak menutup diri dari wawasan dan ilmu pengetahuan tentang design yang ada di luar sana. Untuk itulah kami sebagai mahasiswa design yang nantinya akan menjadi generasi penerus, akan mencoba untuk mempertahankan apa yang sudah ada dan berusaha untuk memajukan kembali dunia DESIGN KOMUNIKASI VISUAL Indonesia. jadi tidak akan ada lagi anggapan bahwa mahasiswa design adalah mahasiswa yang sulit diatur dan tidak berkonsep.

Sumber: dendi.conceptforum.net

Posted By: Dewi Dian Natalia